Agen Domino Terpercaya NONTON MOVIE ONLINE
Situs Poker Online Situs Poker Online
You are here
Home > Cerita Dewasa > Cerita Dewasa Bercinta Dikamar Ganti Dengan Bimo

Cerita Dewasa Bercinta Dikamar Ganti Dengan Bimo

Cerita Dewasa
Cerita Dewasa Bercinta Dikamar Ganti Dengan Bimo

Cerita Dewasa – Perkenalkan namaku Nikita, aku adalah Admin disalah satu perusahaan yang melayani jual beli mobil baru. disini aku akan menceritakan pengalaman gilaku ketika aku bersetubuh dengan seorang lelaki yang bernama Bimo dikamar ganti sebuah Mall.

Baca Juga : Cewek Abg Bisyar Bispak Mesum Denganku Dihotel

Okey… kalu begitu kita langsung menuju ke cerita liarku. Kira-kira sudah satu tahun aku tidak komunikasi dengan dengan Bimo, ddengan kebetulan minggu lalu aku bertemu dia secara kebetulan di dealer mobil. Ketika itu secara diam-diam aku kabur dari kantor, Pada siang itu aku bermaksud untuk service mobil, aku mengira hanya sebentar untuk service mobilku, eh ternyata lama juga service-nya.

Kira-kira setelah aku menunggu 1/2jam, mobilku belum selesai juga service-nya. Tidak terasa hari sudah menjelang sore, ketika itu aku ditelepon dari pihak dealer, katanya sudah beres dan mobilku sudah bisa diambil. Sesampainya disana ternyata aku harus menunggu lama lagi di lobby dealer mobil itu. Untuk mengalihkan rasa kesal dan bosanku, aku iseng-iseng berjalan dan melihat-lihat mobil-mobil di showroom itu.

Nah… di sinilah aku bertemu lagi dengan Bimo, Bimo ini kebetulan bekerja di dealership ini dan dia berposisi sebagai sales. Dari percakapan hari itu, aku tahu bahwa dia mempunyai mobil beberapa mobil mewah. Oh iya… Bimo ini juga baru putus dengan pacarnya yang sudah lama berhubungan dan tinggal bersama dengan Bimo .

Sebenarnya aku tidak ingin keluar dengan laki-laki ini, karena pada dasarnya aku tidak mau dijadikan sebagai pelarian cintan-nya saja. Sampai pada akhirnya ketika itu tepatnya pada hari Rabu sekitar pukul sembilan pagi, tiba-tiba telepon di meja kantorku berdering. Lalu aku-pun bergegas mengangkat telefon itu,

“ Hallo… selamat pagi, dengan Nikita di sini, ada yang bisa saya bantu ??? ”, ucapku menjawab telefon itu.

Setelah kuangkat, ternyata terdengarlah suara laki-laki,

“ Pagi juga Nikita, ini aku Bimo,bagaimana kabar kamu sekarang ??? kira-kira kita bisa makan siang bareng kapan nih ??? hhe… ”, ucapnya.

“ Oh Bimo, kabar aku baik kog Bim. Kalau masalah makan siang, aku kayaknya sibuk banget deh minggu-minggu ini ”, jawabku.

“ Oh begitu ya Nik, oke deh minggu depan aja kalau begitu, aku tunggu yah ”, ucapnya.

Singkat cerita kira-kira sudah satu minggu Bimo terus menelefonku tiap hari untuk mengajak keluar. Tak jarang aku berikan bermacam-macam alasan untuk menolak ajakanya. tetapi hari ini nampaknya, dia tidak akan menerima jawaban tidak / penolakan dariku. Bimo ini terus saja terus mendesak dan merayuku, dan pada akhirnya aku-pun mengiyakan ajakan-nya. Situs BandarQ

“ Hey Nikita, selamat pagi, ini udah minggu depan hlo. Kayaknya kamu udah nggk sibuk deh minggu-minggu ini.hhe.. Siang ini kita makan siang ya Nik??, hari ini hari yang bagus hlo, nanti aku bolos kerja deh demi kamu…hhe… Gimana ??? ”, ucapnya mulai merayuku.

“ Hah…. Aku-kan hari ini mesti kerja Bim, gimana coba ??? ”, jawabku.

“ Kerjakan pagi-nya, lagian juga ada waktu break-kan Nik? Nanti pas jam istirahat kamu aku jemput kantormu yah, Oh iya alamat kantormu di mana ??? ”, ucapnya bersih kukuh tanpa menunggu jawaban ya atau tidak dariku.

“ Hemmmm dasar kamu Bim, bisa aja kalau kalau ngerayu cewek. Kalau gitu okey deh, Tapi cuma sebentar aja yah, dan aku enggak boleh telat masuk kerjanya setelah Break ”, ucapku.

Pada akhirnya akupun menyepakati untuk makan siang hari ini dengan Bimo. Selain dia sering megajakku untuk makan siang, tak jarang Bimo juga menawarkan aku untuk makan malam bersamanya. Singkat cerita tibalah jam istirahatku, 1 jam sebelumnya Bimo sudah menelepon untuk mengkonfirmasi jam makan siang kami hari ini.

Setelah itu kira-kira 5 menit sebelum jam istirahatku, Bimo memberi tahu bahwa dia hampir sampai. Sesampainya Bimo sampai dilokasi kerjaku, akhirnya kamipun bertemu dan kami bergegas pergi salah satu restoran Japanese Food. Oh iya guest… Bimo ini orangnya tidak jelek, tinggi 179 cm, berat badan proporsional, orangnya luwes, tapi sayangnya dia mempunyai perut yang agak berlemak.

Tapi kalau dilihat secara keseluruhan dia memang mantap, ditambah lagu dia mempunyai mulut yang pandai berbicara, ( tentu saja dia seperti itu, soalnya dia-kan top sales di daerah sini). Apalagi nantinya aku tahu kalau dia juga memiliki 3 mobil mewah lain di samping Porsche-nya. Aku diam-diam menggunakan mental calculation mengkira-kira pendapatan dan pengeluarannya setiap bulan.

Semua pembayaran mobil, asuransi, rumah, makan dan lain sebagainya. Wow, banyak duitnya, aku pikir, tapi mengeluarkan terlalu banyak uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Lewat mental calculation pula aku menaksir umurnya lebih tua 5 tahun dari aku. Bimo ini mempunyai nafsu makan yang banyak sekali, selain kuat kuat makan dan dia juga kuat minum ( alcoholic).

Ketika itu pada waktu kami makan siang, dia memesan sake dan sampai dua kali lagi dia memesanya. Makan siang kami yang menu makanannya enak ketika itu dia sumpitkan ke piringku, sisanya dia habiskan semua, gila nggak tuh guest, padahal kami memesan banyak sekali makanan waktu iyu. Kata Bimo, itupun belum cukup, diakuinya bahwa dia masih bisa tambah dua burger lagi.

Cerita Dewasa
Cerita Dewasa Bercinta Dikamar Ganti Dengan Bimo

Sungguh aku sangat heran untuk porsi makannya yang luar biasa itu, layaknya tubuhnya menyerupai balon, tapi dia tergolong kurus. Terus terang, aku suka laki-laki yang nafsu makannya besar dan tidak takut makan apapun. Ini berbeda hlo dengan dengan yang namanya rakus. Ini pertanda kira-kira nafsu seks-nya juga besar dalam kamusku, hhe.

Sepanjang makan siang, tidak sekalipun dia menyinggung soal pacarnya. Aku pun tidak mau tanya. Aku tidak berminat. Dia menyinggung banyak tempat-tempat kemana dia ingin membawaku, tetapi aku tersenyum saja, tidak memberi tanggapan positif. Sampai akhirnya kita mau berpisah, dia minta nomor teleponku yang personal.

“ Telepon aku di kantor aja lah! ”,ucapku.

“ Kalau aku pengen ngobrol malam-malam gimana? ”, ucapnya mendesaku.

Well…, aku segan, dia pun tidak memaksa. Keesokan harinya Bimo meneleponku lagi dan juga lusanya. Sebenarnya aku tidak ada rencana bagaimana harus menghadapinya. Di hatiku sudah ada orang lain. Dasar laki-laki juga, kalau ada maksud mereka tidak pernah bertanya atau perduli kalau kita sudah punya pacar. Pokoknya kalau di jari manis kita belum ada cincin, pasti dikejar terus.

Kali ini Bimo mengajakku pergi kencan pada hari Sabtu. Aku langsung menolak, karena waktu itu aku memang mau ke undangan pernikahan kawan dekatku. Bimo bukan Bimo namanya kalau dia menyerah, aku sudah tahu taktiknya, bila makan siang ditolak, dia minta makan malam, bila besok ditolak, dia minta lusa. Dan kali ini Sabtu ditolak, dia minta Jumat malam.

Akhirnya aku bilang Jumat malam aku akan pergi ke toko baju beli gaun untuk wedding. Bimo kepengin mengantar, suatu kebetulan bahwa Jumat adalah hari liburnya, selain Selasa. Aku bukan mau belanja. Aku sudah melirik satu gaun malam warna hitam yang aku suka, tapi belum kubeli sampai sekarang karena lumayan mahal.

Sampai akhirnya aku memutuskan Jumat malam akan kubeli saja karena tidak ada yang lain yang lebih menarik. Bimo menjemputku di kantor lagi malam itu. Di perjalanan yang lumayan jauh dan macet itu, kita mengobrol panjang lebar mengenai apa saja, kecuali mengenai seks-nya. Sesampainya di butik, aku tahu persis di mana letak baju itu.

“ Bimo, aku coba baju dulu ya! Kamu liat-liat barang lain deh, biar enggak bosen nungguin aku ”, ucapku.

“ Kog gitu sih, Aku kan ke sini cuma buat nganterin kamu. Aku tunggu di luar kamar ganti kamu aja yah ”, ucapnya.

“ Okey deh kalau gitu Bim, Makasih ya Bim “, ucapku tanpa rasa curiga.

Aku tersenyum manis sebagai ucapan terima kasih atas kesediaannya menunggu. Aku berpikir si Bimo ini kelihatannya punya hati yang baik. Aku masuk ke kamar ganti yang besar dan mencoba lagi baju itu sebelum benar-benar kubeli. Ternyata tetap seindah kemarin dulu. Gaun panjang ini tidak mengijinkan aku mengenakan bra karena bagian punggungnya sangat terbuka.

Bagian belahan payudaraku-pun lumayan rendah, gaun itu secara otomatis memamerkan 1-2 cm bukit payudaraku. Sbenarnya dengan gaun itu aku terlihat sangat Sexy. Bahannya gaunya yang lumayan tipis terasa menempel di tubuh, memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhku dan paha kananku yang putih mulus karena belahan rok yang cukup tinggi.

Pada waktu itu ketika aku membungkuk, terlihat payudaraku seakan mau meloncat keluar, apalagi saat itu aku mengenakan push up bra, belum kutanggalkan, aku masih ragu pantaskah aku keluar sekedar sopan santun terhadap Bimo. Tapi, buat apa aku bagai model pamer baju dan tubuh di depan dia, aku kan bukan mau pergi ke pesta bersama dia.

Pada akhirnya aku buka pintu menengok keluar, dia masih di sana. Di luar sepi-sepi saja, hanya ada satu dua orang yang sedang berbelanja. Aku pun memutuskan untuk ke luar sebentar. Matanya langsung menangkapku. Aku berucap,

“ Taraaaa… Ini gaun yang aku pilih Bim, bagus kan ??? ”, tanyaku padanya. Sepertinya dia tidak tahu mau bicara apa. Aku memang terlihat sangat berbeda.

“ Benar-benar cantik kamu Nik”, ucapnya memujiku.

Ketika itu aku hanya tersenyum. Aku tidak tahu bagaimana tampangnya, tapi pada saat itu aku merasa aku lebih baik darinya. Bimo datang mendekati, barangkali ingin ikut mengamati, tetapi tidak ada komentar lain yang keluar dari mulutnya. Dia hanya bilang,

“ Pas banget di tubuhmu, you should buy it ”, Sepertinya aku sudah membuat kejantanannya bangun.

Aku geli sendiri. Aku pun balik lagi ke kamar ganti. Setelah kututup pintu, tanpa disangka Bimo sudah menyusul di belakangku. “ Nikita, boleh aku masuk? Ada sesuatu yang janggal tuh… ”, ucapnya.

“ Hahhh… ”, kata heranku sambil membuka pintu.

Kemudian Bimo-pun masuk, menutup pintu dan mengunci.

“ Bimo! Kamu enggak boleh masuk ke sini! ”, bisikku tertahan.

“ Ssstttt… !!! Enggak ada yang liat aku masuk ”, ucapnya.

Lalu Dia menyeringai, lalu berbisik tak kalah pelannya.

“ Kamu benar-benar menggairahkan ,cuma tidak seharusnya kamu mengenakan Bra… ”, wajahnya dekat sekali dengan wajahku.

Suasana di luar dan di dalam sangatlah berbeda. Di sini lebih private dan kami dekat sekali. Aku bisa merasakan dirinya sudah terangsang. Tangannya menyentuh bahuku, menarik turun tali BRA-ku satu persatu lewat dari pundakku ke lenganku. Dengan begitu, yang ada di bahuku hanyalah seutas kain bagaikan tali yang berasal dari gaunku.

Lewat sentuhannya di kulitku dan desahan nafasnya, darahku mulai naik. Aku memang tidak punya perasaan khusus untuknya. Bahkan kami baru kenal, tapi aku biarkan tangannya merambat kepunggungku mencari kaitan Bra, aku hanya menahan nafas ketika tercium bau cologne yang dia pakai, dekat sekali. Aku menduga dia memang sengaja mendekatkan begitu supaya aku tidak tahan.

Setelah ditemukan, Bimo melepaskan kaitan itu, kemudian dia menarik talinya lepas dari lengan kiri dan lengan kananku, lalu dia tarik keluar sepotong pakaian dalam itu. Aku berdiri tegak bagai orang terhipnotis, tidak melawan sama sekali terhadap aksinya. Aku sadar, ada seorang laki-laki yang sedang dilanda birahi, aku yang menyebabkannya begitu, dan aku sedang diminta tanggung jawab.

Bimo merangkul pinggangku, membawaku ke dalam pelukannya. Untuk beberapa saat dia hanya merangkulku, kurasakan dadaku yang tidak terbungkus menempel di dadanya.

“ Nikita sayang, aku ingin membina suatu hubungan denganmu, maka, kalau kamu enggak siap, suruhlah aku keluar sekarang, tapi.. ”, ucapnya seakan membiusku.

Lalu pelukannya mengerat, kaki kanannya diselipkan di antara kedua kakiku lalu menekankan pangkal pahanya pada diriku, mendorongku ke belakang selangkah sehingga merapat ke dinding,

“ Aku ingin kamu tahu… bahwa pada saat ini, aku sedang mengalami On fire… ”,

Gila! tentu saja aku bisa merasakan benda keras itu di balik celana jeansnya, wong dia dengan sengaja menggesek-gesekkannya di selangkanganku kok. Bersamaan dengan itu, Bimo mendaratkan bibirnya di bibirku dan mulai menciumiku dengan panas. Bibirnya turun ke daguku, lalu naik ke kupingku, di sana dia membisikkan,

“ Oughh… Nikita… you’r my Honey… Aghhh… ”, ucapnya penuh nafsu.

Kemudian turun lagi ke leherku, setiap inci kulitku merasakan kehangatan yang dia berikan lewat bibir dan lidahnya, kadang giginya menggigitku pelan memberiku kenikmatan yang lebih dalam. Otakku saat itu tidak dapat berpikir dengan logis. Aku tidak ingat bahwa lelaki yang sedang mencumbuiku ini baru saja aku kenal. Dua tahun yang lalu kita cuma teman asal lewat saja.

Sekarang setelah bertemu satu kali saja, dia sudah mulai menggerayangi tubuhku. Tidak pernah aku berbuat sejauh ini dengan seorang stranger sebelumnya. Tak tahan lagi aku menggigit bibirku agar tidak mengeluarkan suara, akhirnya aku cuek, aku mendesah dan merintih, bahkan melenguh kuat ketika dia meremas payudaraku. Aku sudah tidak peduli bahwa kami berada di tempat umum.

Siapa saja kapan saja orang bisa lewat dan mendengar suaraku. Di sela-sela ciumannya, ternyata aku masih ingat akan gaun yang akan menutupi tubuhku di pesta besok,

“ Oughhh… Bimo… bajuku ini belum dibayar… hati-hati yah… Ssss… aghhh… ”, ucapku mulai mengikuti permainan Bimo.

Kalimat ini malah mengingatkan dirinya bahwa aku masih berpakaian, diangkatnya bagian rok gaunku ke atas melewati kepalaku. Kini aku bugil, hanya ada celana dalam yang masih menutup kewanitaanku. Bimo kembali menjelajahi tubuhku yang barus saja tertutup, dia menciumi setiap lekuk-lekuk di tubuhku.

Entah dia sadar atau tidak dengan suara-suara ribut yang berasal dari mulutku. Ketika itu aku masih berusaha untuk tidak terlalu ribut, tetapi ketika dia menghisap putingku, aku menjerit tak karuan, pada saat itulah dia merelakan tangan kirinya untuk di mulutku sebagai alat pembungkam. Kugunakan jari-jarinya sebagai pengedap suara yang kugigit-gigit sebagai pengganti jeritan yang keluar.

Tapi hanya sebentar saja, karena tangannya kemudian berpindah meremas-remas pantatku. Aku mulai protes di saat gerakannya kian turun ke bawah, ketika jari-jarinya mulai menyusup ke dalam celanaku dan menyentuh bulu-bulu kewanitaanku. Kepalaku menggeleng-geleng. Aku merasa tidak nyaman, well, at least tidak di tempat begini. Tiba-tiba aku berada di alam sadar.

Wajahku yang sejak tadi menikmati aksinya kini mulai terjaga. Tangan Bimo mencoba melorotkan celana dalamku, tapi aku tahan, “ Stop Bimo…. Cukup sampai di sini… pleaasse, aku enggak bisa melanjutkan.. ”, ucapku.

Aku masih mencegahnya dengan cara menempatkan tangan kiri di celanaku dan tangan kanan mendorong jauh bahunya. Bimo menjawab dengan nafas memburu,

“ Oughhh… jahgan sayang…! jangan hentikan sekrang… ”, ucapnya.

Masih dengan mulutnya yang sedang menjilati puting payudaraku dengan menggebu-gebu, sementara dua jari tangannya sudah menyusup lebih dalam lagi mencari klitorisku, dia makin nafsu,

“ Vagina kamu sudah basah kuyup sayanf… Oughhh… ”, ucapnya dengan muka mesumnya.

Aku-pun mengerang tertahan. Aku memang sudah nafsu sekali, aku sudah siap sebenarnya, dia malah masih berpakaian utuh.

“ Bimo! Aku serius! ”,ucapku mengingatkan Bimo.

Akhirnya aku benar-benar menghentikan gerakannya, karena detik berikutnya aku tampar kepalanya. Tidak keras, tapi cukup membuat dia kaget.

“ Whoops.. ”, pikirku.

Lalu aku berkata lunak sedikit memelas,

“ Bimo, aku serius, tolong jangan dilanjutkan… aku bisa klimaks di sini ”,

“ Lakukan saja disini, lagian apa salahnya sih ? Bukankah tadi hampir? ”,

Dia tidak marah, cuma agak kesal mungkin. “ Lebih baik jangan ”, Ketika itu aku menunduk sembari mengenakan pakaianku kembali. Aku tidak mau nantinya berakhir di kantor security atau apa, pikirku.

Cerita Dewasa
Cerita Dewasa Bercinta Dikamar Ganti Dengan Bimo

“ Nikita, nanti kita lanjutkan di rumahku, setelah makan malam ”, katanya sungguh-sungguh.

Bimo keluar dulu. Aku menyusul di belakangnya dengan tampang innocent, maklum kan, baru mencoba baju, namun kelihatannya wajahku kemerahan bekas gejolak nafsu tadi, mataku sedikit berair karena kenikmatan yang baru saja kualami. Bimo terlihat normal-normal saja, dia hanya tersenyum di saat kita bertatapan.

“ Ada barang lain yang masih diperlukan? ”, tanya Bimo.

“ Enggak ada! Keperluanku udah komplit ”, jawabku.

“ Ayo kita cari makanan kalau gitu. Aku lapar banget. Sini bajunya aku bayar dulu ”,,

Aku-pun berdiri di depan kasir siap melakukan transaksi pembayaran,

“ Ngapain dia mau ikut-ikut bayar “, pikirku.

Aku sudah siap dengan kartu kreditku, namun sebelum kartuku diambil oleh sang kasir, Bimo dengan kilat mengambil kartuku, menukarnya dengan kartu kartu kreditnya-nya dan menyerahkan kepada kasir. Aku melotot, protes.

“ Engga apa-apa ”, katanya ringan.

Well, mungkin duit segitu tidak berarti apa-apa buatnya, tapi kan bisa jadi beban untukku. Selesai makan malam, Bimo benar-benar membawaku pergi ke rumahnya. Aku tidak begitu yakin jika aku harus menurutinya atau menolaknya mentah-mentah. Sejujurnya aku ingin menikmati apa yang dia tawarkan, harus kuakui aku memang membutuhkannya.

Sudah lama sekali aku tidak disentuh laki-laki, tapi karena tidak ingin kelihatan desperate. Kemudian aku mengungkapkan bahwa aku mengkhawatirkan mobilku yang masih parkir di lapangan kantor, dia bilang tidak usah takut. Pokoknya beres, katanya. Setiba di rumahnya, Bimo menyuguhkan Whisky. Tanpa ba bi Bu lagi, dia memelukku dari belakang, dan kali ini dia menciumiku.

Bimo menciumi hampir seluruh bagian belakang tubuhku, mulai dari kudukku sampai ke bawah kakiku. Lalu setelah itu aku berbalik dan dia naik dari situ menstimulir seluruh bagian depanku inci demi inci. Kami berakhir di ranjangnya, tubuh telanjang dan masih meresapi sisa-sisa kejadian yang baru saja lewat. Aku bangkit duluan. Jam di meja sudah menunjukkan jam 23.00.

Aku harus menjemput mobilku dan pulang ke rumahku sendiri. Kami berpakaian. Ketika itu Bimo masih sempat-sempatnya mengganti sarung bantal penopang kepalaku tadi. “ Ngapain sih? ”, tanyaku tersinggung, karena yang diganti ternyata cuma sarung bantalku.

“ Uemm… ”, dia menatapku dengan tampang bersalah.

“ Mantan-kupun belum pindah keluar dari sini… dia bisa marah besar kalau mencium parfummu ”,

“ Hah! ”, aku serasa baru ditampar, mungkin balasan tamparanku tadi di kamar ganti. “ Aku memang ingin kasih tahu kamu.. ”, katanya menatapku.

“ Maafkan aku.. ”, ucapku.

“ Dia masih tinggal di sini? Dia akan pulang malam ini? ”, ucapnya benar-benar membuat aku merasa terhina.

“ Dia sudah dua hari tidak tidur di sini. Dengar, Nikita, kita benar-benar udah putus, aku udah meminta dia keluar secepatnya, tapi dia butuh waktu mencari tempat tinggal lain ”,

“ Tentunya kamu tidak memerlukan bilang-bilang sebelum semua ini terjadi! ”, kataku sinis.

Singkat cerita aku-pun marah dan pergi meninggalkan rumahnya. Tapi, aku belum bisa terima bahwa aku baru saja tidur di tempat tidur manatan pacar Bimo yang tinggal bersama Bimo. Singkat cerita Akhirnya setelah 3 hari kamipun berbaikan kembali. Aku dan Bimo sekrang menjadi pasangan kekasih, semenjak itu aku menggantikan mantan Bimo dan tinggal dirumahnya seperti mantannya dulu.

Situs BandarQ

Tinggalkan Balasan